Konser Pembebasan Rizal Abdulhadi

Ijal

Oleh : Ulfa Ilyas

Sebagai bentuk simpati terhadap korban bencana alam, terutama di Wasior, Mentawai, dan Merapi (Jogjakarta), Rizal Abdulhadi menggelar konser pembebasan yang disebut “gerilya Jakarta II”.

Selain itu, konser pembebasan ini ditujukan untuk merespon peringatan hari pahlawan nasional, tanggal 10 November, dan mengobarkan kembali semangat melawan penjajahan baru (rekolonialisme).

Kepada para pendengar, Rizal Abdulhadi mengatakan bahwa sebagian besar lagu-lagunya terinspirasi massa rakyat, seperti petani dan buruh, dan mendedikasikannya untuk perjuangan pembebasan mereka.

Saat tampil semalam, Rizal Abdulhadi berduet dengan pemain biola berbakat, Red violin, dalam melantunkan tiga awal di bagian pembukaan acara.

Selain itu, ada pula pembacaan puisi perjuangan oleh Roso Suroso, sekjend Jaker, yang membacakan puisi “Subagon” dan “Melawan lupa”.

Ada pula pembacaan puisi yang sangat menggetarkan dari Wien Krista, yang membacakan beberapa puisi dari Taufik Ismail.

Pembaca puisi ketiga adalah sastrawan dari Riau, Rinaldi Sutan Sati, yang tampil sangat memukau dengan tiga puisinya.

Dalam penampilan semalam, Rizal Abdulhadi membawakan puluhan lagu-lagu perjuangan, diantaranya, “Inilah Aku”, “Mari menari petani”, “pelanjut angkatan”, “Dalam Tubuh Pertiwi”, dan “Bangkitlah para pahlawan”.

Selain Risal Abdulhadi, ada juga penampilan dari “Dompak Redflag’ dan Maria Sahida. Keduanya membawa dua lagu yang cukup memukau. Dompak membawakan lagu lawas berjudul “Tidur Jangan” dan satu lagu terbarunya “Hentikan”.

Kerakyatan

Sebagai baladis, Rizal sangat memahami bahwa karya-karya merupakan mulut yang berbicara untuk menyuarakan penderitaan rakyat dan berbagai persoalan bangsa.

Seperti lagu “Mari menari petani,” menurut Rizal didedikasikan untuk perjuangan para petani di Treng Wilis, Desa Perian, Lombok Timur.

Begitu pula lagu “Pelanjut Angkatan”, yang merupakan musikalisasi dari puisi Henriette Roland Holst yang tertulis di nisan Ali Archam, menceritakan keharusan kaum muda untuk melanjutkan perjuangan para generasi pejuang di masa lalu.

Demikian pula dengan lagu “Di Balik Jendela”, yang katanya peruntukkan untuk para aktivis gerakan rakyat yang ditahan di penjara Bau-bau, Sulawesi tenggara.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s