Hospital without Wall” – Rumah Sakit Tanpa Batas

Oleh: Nawa Tunggal

Pada tahun 2001 Bagus Utomo (37) menyertakan tulisan “Hospital without Wall – Rumah Sakit Tanpa Batas” di bawah judul tampilan muka situs internet http://www.schizophrenia.web.id yang ia bangun dengan dananya sendiri. Situs itu kini kadaluarsa dan dialihkan ke jejaring sosial Facebook untuk mengkampanyekan peduli skizofrenia. Bagus berhasil menumbuhkan Komunitas Peduli Skizofrenia Indonesia (KPSI) dengan jumlah anggota mencapai 4.300 orang pada pertengahan tahun 2011. Berselang 10 tahun kemudian, Istilah “Hospital without Wall” kembali mengemuka. Bagus di dalam KPSI bekerja sama dengan Perhimpunan Jiwa sehat (PJS) menjadikannya sebagai tema pameran lukisan “Apresiasi Seni Perupa Orang dengan Masalah Kejiwaan (ODMK)”, 16-28 Oktober 2011 di Taman Ismail Marzuki, Jakarta. KPSI dan PJS menyelenggarakan pameran itu atas dukungan dan kesempatan yang diberikan Panitia Jakarta Biennale #14.2011 serta Dewan Kesenian Jakarta (DKJ). Puskesmas Palmares

Hospital without Wall” itu dapat diartikan sebagai rumah sakit tanpa dinding atau rumah sakit tanpa batas. Ini konsep perencanaan dan tata laksana perawatan kesehatan yang muncul di era 1950-an dari sebuah puskesmas di Palmares, Provinsi Alajuela, Costa Rica, semula untuk mengubah akses rumah sakit yang tertutup menjadi terbuka bagi siapa saja. Puskesmas Palmares menjadikan “Hospital without Wall” sebagai gerakan sosial. Pada akhirnya, tidak hanya puskesmas di Palmares. Puskesmas lainnya di Alajuela seperti San Ramon, Alfaro Ruiz, Naranjo, dan Valverde Vega, turut menjalankan “Hospital without Wall. Program ini didukung pemerintah setempat dan menjadi gerakan nasional hingga turut mempengaruhi internasional. Capaian program “Hospital without Wall” di Costa Rica antara lain penurunan angka kematian bayi pada periode tahun 1973 hingga 1995 dari 19,4 persen menjadi 11,5 persen. Penyakit infeksi ditekan dari 83 persen menjadi 33 persen kasus. Angka kelahiran bayi berisiko turun dari 11 persen menjadi 6,5 persen. Data ini diunggah di dalam situs http://www.unesco.org, sebagai best practices. Di Boston, Amerika Serikat, gerakan “Hospital without Wall” juga diadopsi pemerintah setempat untuk penanganan pasien gangguan mental. Khususnya bagi mereka yang memiliki perangai memerdekakan diri dengan menggelandang di jalanan. Linda Ivy Crowder salah satu contoh kasus. Ia pasien bipolar. Setiap malam selalu menggelandang di jalan dan menjadi urusan penertiban polisi setempat. Polisi berkali-kali menangkap Crowder dan menyerahkannya ke rumah sakit. Tidak terlalu lama dirawat, Crowder keluar dari rumah sakit. Selepas dari rumah sakit, kejadian menggelandang di jalan pun selalu berulang. Polisi pun kembali menangkap dan menyerahkannya ke rumah sakit. Pada era 2000-an itu, akhirnya Crowder menjadi salah satu peserta program “Hospital without Wall”. Pemerintah setempat menyediakan anggaran tertentu dan apartemen untuk tempat tinggal untuk Crowder. Hebatnya, prinsip perawatan layaknya di rumah sakit pun dijalankan. Tetapi, tentu saja Crowder tidak harus melulu terbaring di ranjang. Seorang psikiater, psikolog, sosiolog, dan pekerja sosial lainnya dalam jadwal tertentu menemui dan mengajak berdiskusi Crowder di kafe. Pada kesempatan itulah terjadi proses “Hospital without Wall” bagi Crowder.

Dua kasus yang berbeda. “Hospital without Wall” yang berkembang di Puskesmas Palmares dan Boston, Amerika Serikat, menjadi sekadar gambaran aplikasi konsep tersebut. Komunitas Peduli Skizofrenia Indonesia (KPSI) dan Perhimpunan Jiwa Sehat (PJS) merupakan himpunan keluarga yang memiliki anggota keluarga penyandang masalah kejiwaan, beserta beberapa para pemeduli berprofesi psikiater, mahasiswa psikologi, psikolog, dan pekerja sosial. Di sinilah mereka membangun “Hospital without Wall”, dengan menempatkan konsep ini ke dalam  pameran seni rupa untuk mengetuk kepedulian semua pihak terutama pemerintah. Selama ini konsep pemerintah sendiri masih kabur. Selamat menikmati pameran. Selamat menjelajahi “Hospital without Wall”.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s